oleh

Opini Musri Nauli: Pemimpin

Gubernur Jambi Al Haris
Didalam Literatur, sering disebutkan istilah “pepe”. Menurut berbagai Sumber, Pepe adalah tradisi perlawanan Rakyat dengan berjemur di alun-alun. Menunjukkan sikap kepada sang Raja. 
Mereka rela berjemur hingga raja turun dari singgasana. Keluar Istana. Menemui Rakyat yang sedang berjemur ditengah alun-alun untuk mendengarkan keluhannya. 
Demikianlah kisah-kisah yang sering dituturkan oleh leluhur. Cerita alam kosmpolitan yang masih Hidup ditengah Rakyat. 
Hari senin kemarin, setelah issu santer akan demo besar-besaran. Menunjukkan persoalan yang terjadi di jalan raya. 
Persoalan batubara memang menyita adrenalin Rakyat Jambi. Berbagai kematian mahasiswa akibat lalu lintas memantik penolakkan di berbagai lini. 
Masih segar dalam ingatan, ketika Ormas kepemudaan menghadang mobil batubara di Simpang Rimbo. Atau perkelahian antar kampung akibat batubara. 
Dalam Catatan saya, persoalan batubara memang menimbulkan persoalan disana-sini. Entah “mulut tambang’ yang tidak dikelola, limbah batubara, angkutan yang membuat macet disana-sini. 
Belum lagi berbagai kematian yang terus menghantui mahasiswa atau mahasiswi UNJA dan UIN yang terus terjadi. 
Namun disisi lain, ada investasi Tetap harus dipastikan keberlangsungannya. Pemerintah harus dapat memilih dan memilah persoalan. Termasuk menyelesaikannya dengan bijaksana. 
Al Haris sebagai Gubernur Jambi sudah memikirkannya. Dia harus adil dan mampu mengambil keputusan cepat yang dapat menyelesaikannya. 
Cara Pemerintah Provinsi Jambi didukung oleh Forkompinda Jambi adalah bentuk bagian dari upaya penyelesaian. 
Berbagai rapat kemudian digelar. Berbagai lintas instansi kemudian duduk mencari solusi. 
Solusi pertama adalah menertibkan kendaraan yang membawa melebihi tonase. Cara ini selain menegakkan disiplin berlalu lintas juga memberikan wajah teduh di jalanan. 
Kedua. Al Haris kemudian memperbaiki jalan Muara Bulian – Tempino. Sebagai jalur utama angkutan batubara. Sehingga dari Muara Bulian – Jambi melalui mendalo dapat dihindarkan. 
Ketiga. Al Haris menegakkan Aturan agar kendaraan yang mengangkut batubara harus melewati malam hari. Bukan siang hari. 
Selain akan mengurangi mobilitas angkutan batubara yang melewati Mendalo, jalur sibuk yang dilewati mahasiswa dan mahasiswi yang sering terjadi kecelakaan akan dapat dikurangi. Atau setidak-tidaknya dapat dihindarkan. 
Berbagai pilihan yang telah dilakukan Al Haris adalah bagian dari tanggungjawab sebagai Gubernur. Memberikan solusi jangkah pendek sembari memikirkan solusi permanen persoalan yang terjadi. 
Namun setidak-tidaknya, pilihan Al haris memilih mengambil solusi praktis jangka pendek dapat menguraikan persoalan yang terjadi.
Cara elegan yang yang telah dilakukan kemudian disampaikan. Al haris rela berjemur bersama dengan Rakyat untuk menyampaikan berbagai persoalannya. 
Sebagai pengguna jalur Jambi – Tembesi, solusi yang dilakukan Al Haris dapat saya nikmati. Dan saya berharap agar solusi ini dapat terus dilakukan. Sembari kita mencari solusi permanen di sektor batubara. 
Mari kita dukung Pemerintah Provinsi Jambi dan Forkompinda.

News Feed